Perempuan (Part 1)

Senin, 13 Juni 2011

Perempuan merupakan salah satu makhluk ciptaan Tuhan, ya bisa dikatakan lebih unik dan antik dari pada makhluk lainnya. Bentuknya pun beda dari pada yang lain, karena dari ujung rambut sampai ujung kaki mahal harganya, begitu juga dengan perawatannya. Itu masih secara fisik belum lagi jiwanya. Benar ketika ada pernyataan bahwa perempuan sulit dimengerti pasalnya perempuan lebih emosional dari pada laki-laki dan lebih ekspresif. Dari kecil perempuan dibentuk untuk mengekspresikan dirinya seekspresif dan sekreatif mungkin. Seperti contohnya ketika dia sedih, dia menangis. Ketika dia senang dia jingkrak-jingkrak kegirangan. Beda dengan laki-laki, dari kecil dia sudah dibentuk menjadi pribadi yang tangguh dan tegar ketika terjadi sesuatu terhadap dirinya. Padahal itu penyebab dari umur pendek. Sesuatu yang tidak disalurkan akan menjadi penyakit,hehehehe...

Terkadang hal yang di mata orang lain kurang namun itu bisa menjadi suatu kelebihan. Begitu hanlnya dengan perasaan yang sensitif. Sebenarnya itu bukan menjadi kelemahan seorang perempuan. Perempuan dibentuk menjadi sensitif itu luar biasa, karena bisa menjadi pribadi penyayang dan bisa merawat anak-anaknya dengan penuh kesabaran serta kasih sayang. Kelak agar bisa menjadikan anak-anaknya sebagai pemimpin bangsa.
Banyak hal yang membedakan antara laki-laki dan perempuan, khususnya di Indonesia semuanya terbentur oleh adat dan budaya. Budaya yang menggambarkan bahwa laki-laki merupakan kepala rumah tangga yang harus bekerja di luar mencari nafkah, sedangkan perempuan hanya tinggal di rumah, menunggu suami pulang, bekerja di rumah dan tentunya merawat anak. Dalam dunia pendidikan pun cukup terlihat jelas perbedaan tersebut. Sebagai contoh, dalam buku media belajar, anak sudah diberi contoh pernyataan “Ayah bekerja dan Ibu pergi ke pasar atau memasak”. Tetapi itu budaya beberapa tahun yang lalu, namun kini sudah mulai bergeser sedikit demi sedikit.

Perempuan sudah merambat ke dunia publik pula ketika Kartini berkiprah.
Ruang untuk perempuan sudah mulai terbuka, tetapi pertanyaannya Kenapa perempuan masih banyak yang di belakang?? Nah banyak faktor tentunya yang menyebabkan hal itu terjadi. Ini sama halnya dengan bangsa Indonesia. Ketika sudah merdeka kenapa saat ini masih terasa ada penjajahan. Yang perlu dilakukan saat ini adalah kesadaran diri sendiri dan menyadarkan kerabat dekat bahwa kita mempunyai kesempatan. Meskipun banyak perempuan yang sudah sukses ke ranah publik (bukan dunia artis maksudnya), masih saja ada perasaan minder dan belum yakin sepenuhnya ketika dia di depan. Tetapi mereka lebih mengedepankan apa yang akan dia suguhkan ke publik akan bermanfaat. Semua perempuan mempunyai kesempatan yang sama, tinggal bagaimana kita melihat kesempatan itu.

Dari kaca mata analisis pribadi saya, perempuan belum bisa menjadi pribadi yang di depan seperti halnya laki-laki yaitu pertama karena perasaan atau emosional diri perempuan sehingga muncul ketakutan-ketakutan yang tidak berujung, yang kedua yaitu hanya sedikit perempuan yang mempunyai kapabilitas tinggi(bukannya saya merendahkan kaum perempuan sendiri) dan minat ke bidang-bidang yang biasanya digeluti laki-laki seperti halnya politik. Kemudian musuh dari perempuan yaitu dari kaum perempuan itu sendiri karena tingkat sensitif perempuan lebih, sehingga sedikit-sedikit muncullah iri pada kaumnya sendiri. Itu awal dari muculnya masalah-masalah lainnya. 

Ini hanya sebatas pengalaman di lingkungan hidup saya, bukan sebuha indikator pasti. Semuanya tergantung pribadi maing-masing, yang mengubah dunia ini. Perempuanlah yang menjadi tonggak keberhasilan bangsa ini. Hancurnya perempuan juga hancurnya bangsa ini. Nah, marilah kita berlomba-lomba untuk memperbaiki diri sendiri sehingga bisa merambat ke pribadi lainnya. Keep spirit,,,!!!

0 komentar: