Sebelum kita menjawab satu pertanyaan tersebut marilah kita ungkap bersama-sama mulai dari awal tentang anak jalanan. Agar kita tidak hanya mengira-ngira dalam menjawab pertanyaan tersebut. Kita buktikan dengan apa yang kita dapat pada realitanya.Anak Jalanan, apabila kita mendengar dua kata tersebut yang terlintas dalam pikiran kita adalah tempat wisata, alun-alun, pasar besar, perempatan-perempatan lampu merah, terminal, bus-bus, dll. Tepat sekali karena itu merupakan tempat operasi anak jalanan.
Tempat yang cocok untuk observasi kali ini yaitu alun-alun kota Malang karena terjangkau dan dekat dengan tempat domisili para tim TOT. Tepat pk 14.00 WIB tim TOT tiba di tempat. Suasananya sejuk dan mendukung. Apalagi jika berteduh di bawah pohon yang rindang. Berbagai macam orang datang ke alun-alun kota Malang dengan membawa kepentingan yang berbeda-beda. Kebanyakan untuk berlibur dan kebetulan pada waktu itu libur sekolah dimulai. Ada juga yang menenangkan diri melihat suasana yang santai untuk pikiran. Di alun-alun ini juga merupakan tempat untuk mencari pundi-pundi rejeki bagi sebagian orang dengan cara yang berbeda. Mayoritas sebagai pedagang kaki lima, namun pengamen juga meramaikannya serta banyak peminta-minta, yang mempunyai personil mulai dari anak kecil hingga orang dewasa. Namun, anak kecillah yang sering beroperasi dikarenakan orang selalu simpatik pada anak kecil yang belum tahu apa-apa.
Dari latarbelakang tidak tahu apa-apa itulah menjadikan orang-orang jahat memanfaatkan akan keadaan tersebut. Seperti orang-orang jahat yang malas untuk bekerja, akhirnya mencari anak yang tidak sekolah, tidak terurus oleh keluarganya karena kemiskinan, atau bahkan menculik anak-anak untuk dipekerjakan sebagai pengamen atau peminta-minta. Tidak hanya orang-orang jahat yang tidak mempunyai ikatan darah saja namun terkadang orang tua kandungnya yang menjadi dalang operasi anak jalanan karena terjepit ekonomi. Dapat disimpulkan bahwa operasi anak jalanan di berbagai tempat, ada yang terstruktur organisasi, individu dan memang satu keluarga meramaikan jalanan.
Udara panas pada siang itu sangat mencekam, untung saja tim kami menemukan tempat yang nyaman untuk melihat semua aktivitas anak jalanan. Terdapat satu anak jalanan yang menarik perhatian kami. Dia mengamen dengan tutup botol coca-cola yang ditancapkan pada balok kayu kecil yang bisa menimbulkan bunyi untuk mengiringi nyanyian mereka. Tiap ada pengunjung datang si anak itu mendekati dan menyanyikan lagu andalannya. Setelah selesai, dia menghitung berapa yang ia dapatkan. Dia tersenyum jika mendapatkan duit yang lebih banyak. Namun, kami agak sulit mendekati si anak itu. Kebanyakan dari anak jalanan ini merasa takut akan orang asing yang belum dia kenal. Entah apa yang menjadi penyebabnya. Kami tidak akan berhenti sampai disini saja. Masih banyak jalan menuju roma, celetuk salah satu tim TOT yang sangat ingin mengetahui sisi kehidupan anak itu.
Muncullah ide jail tim TOT untuk mendekati anak itu. Ketika dia menghampiri kita untuk mengamen, kita sengaja mengulur waktu untuk tidak memberi sesuatu pada anak itu. Agak lama kemudian kira-kira 5menit barulah kita memberinya uang dan mengajak dia untuk mengobrol. Dia tidak mengeluarkan satu kata pun. Kemudian kita menyodorkan kertas dan bulpoin. Dia mengerti apa yang kita maksud. Akhirnya dia menuliskan nama Jeni umur 12 tahun tempat tinggalnya di daerah Sukun Malang. Setelah puas menuliskan jawaban yang kita ajukan, dia langsung berlari menghilang entah kemana.
Namun, kami berpikir lagi dan muncullah pertanyaan kenapa anak-anak itu merasa takut dan trauma dengan orang-orang asing alias orang yang bukan berasal dari golongannya?? Selidik asal selidik, kehidupan merekalah yang merubah mainset mereka. Life is competition, siapa yang bisa bertahan hidup di dunia ini, dialah pemenangnya dengan segala cara. Sehingga mereka selalu waspada dan curiga pada siapa pun yang mendekatinya. Hidup ini sangat kejam, dimana-mana banyak persaingan. Itulah yang membuat mereka kejam juga tetapi sangat survive dengan kehidupan. Beda dengan anak rumahan yang hidupnya cukup enak walaupun sederhana disbanding dengan anak-anak jalanan tersebut.
Setelah beberapa saat kemudian kira-kira 10 menit, “Saya baru ingat,” celetuk salah satu tim TOT. “Ingat apa??, tanya kami serentak”. Di daerah Sukun ada yang namanya MYC(Malang Youth Center). Disana tempat berkumpulnya anak-anak jalanan untuk melakukan aktivitasnya selain di jalanan. Pemilik MYC ini merupakan pendeta. Di MYC ini anak-anak tersebut dilatih atas skill yang mereka punya dan akan dikembangkan di sana. Ini bisa dikatakan surga dunianya anak jalanan, pasalnya mereka bebas berekspresi dan mendapatkan kesejahteraan yang baik. Tanpa harus dituntut macam-macam. “Memang benar-benar tempat yang menyenangkan, apalagi untuk bermain musik” tambahnya lagi.
Diawali dengan kesenangan bisa berlanjut dengan hal-hal yang substansial untuk hidup mereka. Layaknya belajar seperti sekolah. Kami apresiatif sekali seperti adanya MYC ini. Anak-anak jalanan sebutan itu akan berevolusi menjadi musisi terfamous sepanjang abad. Jalanan hanyalah tempat mereka berlatih. Impian dan khayalan anak-anak itu akan terwujud.
Karena tidak semua anak jalanan berkeinginan untuk hidup sebagai sampah masyarakat. Sampah masyarakat itulah kata-kata yang terkadang melintas di benak orang-orang yang tidak peduli pada mereka. Padahal Mereka membutuhkan uluran tangan kita sebagai orang yang lebih mampu dari pada mereka. Banyak realita yang mengejutkan bermunculan dan sulit dipercaya. Selama ini kita buta akan realita kehidupan yang begitu kejam dan lekat dengan mereka, anak jalanan. Definisi anak jalanan bervariasi. Anak jalanan adalah sebuah istilah umum yang mengacu pada anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan, namun masih memiliki hubungan dengan keluarganya. Tapi hingga kini belum ada pengertian anak jalanan yang dapat dijadikan acuan bagi semua pihak.
Pada mulanya ada dua kategori anak jalanan, yaitu children on the street dan children of the street. Namun pada perkembangannya ada penambahan kategori, yaitu children in the street atau sering disebut juga children from families of the street. Pengertian untuk children on the street adalah anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan yang masih memiliki hubungan dengan keluarga. Ada dua kelompok anak jalanan dalam kategori ini, yaitu anak-anak yang tinggal bersama orangtuanya dan senantiasa pulang ke rumah setiap hari, dan anak-anak yang melakukan kegiatan ekonomi dan tinggal di jalanan namun masih mempertahankan hubungan dengan keluarga dengan cara pulang baik berkala ataupun dengan jadwal yang tidak rutin. Children of the street adalah anak-anak yang menghabiskan seluruh atau sebagian besar waktunya di jalanan dan tidak memiliki hubungan atau ia memutuskan hubungan dengan orangtua atau keluarganya. Children in the street atau children from the families of the street adalah anak-anak yang menghabiskan seluruh waktunya di jalanan yang berasal dari keluarga yang hidup atau tinggalnya juga di jalanan.[1]
Kembali pada pertanyaan di atas, saya yakin jawabannya adalah tidak. Dengan MYC-MYC lain atau lembaga semacamnyalah akan bisa merubah yang awalnya sampah menjadi berlian kota. Kesuksesan akan datang menjemput orang-orang yang yakin akan impiannya. Mereka punya hak hidup yang sama dengan anak-anak lain yang lebih beruntung hidup di dunia dengan keluarga normal. Ibaratnya membutuhkan sedikit polesan agar menjadi indah. Sangat mulia sekali tangan-tangan yang telah memoles atau mendaur ulang sampah-sampah itu.
[1] www.wikipedia.com/anak-jalanan
0 komentar:
Posting Komentar