Tahun Pertama Membosankan Tapi Berkesan…

Kamis, 15 Juli 2010


Kenapa sich temen-temen itu sibuk banget, padahal kuliah juga biasa-biasa saja. Setiap kali, aku ke kamar mereka tidak ada, kata temen kamarnya sich ke rayon. Ehm…apa ya rayon itu??tempat apa gitu?? Biarlah, yang penting bukan kegiatan kuliah. Setelah sempat ketemu sama mereka(Iir dan Nurul) pas kuliah, mereka cerita rayon dsb. Sebenarnya aku pernah denger tucH yang namanya PMII dari kakak tingkat di sini. Iseng-iseng, aku bilang ke mereka,ikutan dunk kalau kesana mungkin saja aku cocok habisnya bosen kuliah kayak gini trus. Akhirnya malam itu, aku diajak teman-teman ke rayon, namanya itu Rayon Galileo. Tanpa berpikir panjang, aku mengisi formulir pendaftaran diklat anggota baru, biar sibuk gitu kayak teman-temanku,he5…dan juga mencari link anak TI, pastilah untuk menunjang akademikku. Iir ma Nurul pun juga kerap sekali ke rayon hanya untuk menanyakan tugas kuliah kita, padahal bisa kita cari sendiri walaupun sedikit yang faham.

Waktu terus berjalan, akhirnya diklat pun tiba. Selama 3 hari aku tidak tidur hanya untuk mengikuti diklat. Ternyata lumayan banyak juga teman-teman TI, tapi aku belum pada kenal sama mereka hanya sebagian saja, ada juga teman OSPEKku. BORING BGT…apa sich ini, aku harus belajar ASWAJA, trus berpikir tentang PMII bahkan sejarah, yang tidak pernah ku sukai selama sekolah. Kita harus faham bener dengan sejarah yang berhubungan dengan itu karena sejarah adalah penentu langkah selanjutnya.

Aku masih belum faham dengan maksud organisasi ini???Walaupun ada sebagian kecil orang yang aku kenal disitu tapi aku tidak ada keinginan untuk bergaul baik dengan mereka semua karena pribadiku ini sulit untuk adaptasi dengan cepat apalagi ketika dari awal kondisinya seperti ini. Ternyata ada yang namanya JJM alias bentak-bentakan ketika malam hari. Tapi ya biarlah, emang ini cara mereka…inget waktu OSIS dulu pas LDK. MAPABA in memorian…..

Setelah selesai MAPABA, kita resmi jadi anggota dari PMII Rayon Pencerahan Galileo. Banyak kegiatan yang dilakukan oleh pengurus untuk kita sebagai anggota, mulai dari diskusi, khataman, pelatihan, tasyakuran, jalan-jalan, dan ada juga English club. Menarik bagiku pada waktu English club karena aku masih tertarik dengan bahasa asing itu. Aku intens setiap kali ada English club, kalau acara lain juga tapi kalau diskusi gitu jarang.

Jujur…aku merasa tidak nyaman dengan semua ini apalagi ketika berada di rayon dan tidak ada kegiatan sama sekali. Aku merasakan hawa-hawa yang tidak enak, sempat iri sich pada teman-teman yang lain, begitu mudahnya akrab dengan senior bahkan teman-teman yang lain pun diperhatikan sama senior terutama yang kelebihan tampang agak mbois gitu. Aku apa sich dibandingkan dengan teman-teman, tampang gak banget, cara bergaul pun gak asyik. Apakah selalu kayak gini ya perlakuan dari senior-senior, apa sudah tradisi kalau yang namanya organisasi hanya dibuat sebagai kedok untuk mencari pacar????

Kebenciannku semakin bertambah, namun hati kecil pun berkata biarlah itu kan cuma orang-orangnya saja. Jadi, aku tidak ppernah berperan aktif dalam kegiatan rayon, berperan pasif hanya sebagai peserta itu pun ketika lagi bosen di ma’had, kalau gak ya stay di ma’had. Hal itu berjalan hingga pada akhirnya ada KKR(Kemah Kader Raya) yang diadakan Komisariat. Pada moment itu lah Ana memulai membuka hati untuk berteman dengan anak-anak rayon karena pada KKR itu, Ana merasa kebersamaan ini begitu indah ketika lebih mengenalnya. Nah…akhirnya timbul semangat yang lebih dari pada yang kemarin sampai-sampai Ana tak sabar menunggu kegiatan lain.

Dua bulan kemudian tibalah saat diklat yang kedua, biasanya orang-orang menyebutnya dengan PKD(Pelatihan Kader Dasar). Sama kayak MAPABA kemarin…selama 3 hari, bedanya yang pasti materi yang disampaikan kemudian substansinya juga beda. Materinya lebih menarik dari pada MAPABA yang kebanyakan berisi dengan sejarah. Di sini, aura dari diklat juga beda karena sedikit banyak kita sudah saling mengenal satu sama lain peserta yang ikut. Aura positif itu juga menarik kemampuan Ana untuk lebih bisa mengungkapkan pendapatnya tanpa malu-malu ketika MAPABA dulu.

PKD ini lebih mengarah pada aplikasi misalnya saja, ketika kita akan melakukan sesuatu terlebih dahulu melakukan pemetaan yang kita dapat dari analisis social kemudian akhirnya adalah aksi untuk memperjuangkan konflik yang ada. Saat itu, simulasi dari aksi kita adalah memperjuangkan kehidupan para buruh pabrik yang kesejahteraannya kurang gara2 adanya tindak korupsi dari oknum2 tertentu. Seolah-olah kita benar2 memperjuangkan orang2 yang tertindas, tetapi yang membuat tidak sacral adalah ketika ada serangan dari senior. Sebenarnya mereka pengennya membuat situasi yang seperti kenyataan, tetapi malah kesannya kayak kita main-main karena mereka melempari kami dengan bungkusan-bungkusan plastik yang isinya lumpur, seperti main perang-perangan saja. Meski badan capek semua, moment tersebut tak akan lekang oleh waktu.

Akankah Anak Jalanan Menjadi Sampah Jalanan Kota Selamanya???

Jumat, 09 Juli 2010

Sebelum kita menjawab satu pertanyaan tersebut marilah kita ungkap bersama-sama mulai dari awal tentang anak jalanan. Agar kita tidak hanya mengira-ngira dalam menjawab pertanyaan tersebut. Kita buktikan dengan apa yang kita dapat pada realitanya.

Anak Jalanan, apabila kita mendengar dua kata tersebut yang terlintas dalam pikiran kita adalah tempat wisata, alun-alun, pasar besar, perempatan-perempatan lampu merah, terminal, bus-bus, dll. Tepat sekali karena itu merupakan tempat operasi anak jalanan.

Tempat yang cocok untuk observasi kali ini yaitu alun-alun kota Malang karena terjangkau dan dekat dengan tempat domisili para tim TOT. Tepat pk 14.00 WIB tim TOT tiba di tempat. Suasananya sejuk dan mendukung. Apalagi jika berteduh di bawah pohon yang rindang. Berbagai macam orang datang ke alun-alun kota Malang dengan membawa kepentingan yang berbeda-beda. Kebanyakan untuk berlibur dan kebetulan pada waktu itu libur sekolah dimulai. Ada juga yang menenangkan diri melihat suasana yang santai untuk pikiran. Di alun-alun ini juga merupakan tempat untuk mencari pundi-pundi rejeki bagi sebagian orang dengan cara yang berbeda. Mayoritas sebagai pedagang kaki lima, namun pengamen juga meramaikannya serta banyak peminta-minta, yang mempunyai personil mulai dari anak kecil hingga orang dewasa. Namun, anak kecillah yang sering beroperasi dikarenakan orang selalu simpatik pada anak kecil yang belum tahu apa-apa.

Dari latarbelakang tidak tahu apa-apa itulah menjadikan orang-orang jahat memanfaatkan akan keadaan tersebut. Seperti orang-orang jahat yang malas untuk bekerja, akhirnya mencari anak yang tidak sekolah, tidak terurus oleh keluarganya karena kemiskinan, atau bahkan menculik anak-anak untuk dipekerjakan sebagai pengamen atau peminta-minta. Tidak hanya orang-orang jahat yang tidak mempunyai ikatan darah saja namun terkadang orang tua kandungnya yang menjadi dalang operasi anak jalanan karena terjepit ekonomi. Dapat disimpulkan bahwa operasi anak jalanan di berbagai tempat, ada yang terstruktur organisasi, individu dan memang satu keluarga meramaikan jalanan.

Udara panas pada siang itu sangat mencekam, untung saja tim kami menemukan tempat yang nyaman untuk melihat semua aktivitas anak jalanan. Terdapat satu anak jalanan yang menarik perhatian kami. Dia mengamen dengan tutup botol coca-cola yang ditancapkan pada balok kayu kecil yang bisa menimbulkan bunyi untuk mengiringi nyanyian mereka. Tiap ada pengunjung datang si anak itu mendekati dan menyanyikan lagu andalannya. Setelah selesai, dia menghitung berapa yang ia dapatkan. Dia tersenyum jika mendapatkan duit yang lebih banyak. Namun, kami agak sulit mendekati si anak itu. Kebanyakan dari anak jalanan ini merasa takut akan orang asing yang belum dia kenal. Entah apa yang menjadi penyebabnya. Kami tidak akan berhenti sampai disini saja. Masih banyak jalan menuju roma, celetuk salah satu tim TOT yang sangat ingin mengetahui sisi kehidupan anak itu.

Muncullah ide jail tim TOT untuk mendekati anak itu. Ketika dia menghampiri kita untuk mengamen, kita sengaja mengulur waktu untuk tidak memberi sesuatu pada anak itu. Agak lama kemudian kira-kira 5menit barulah kita memberinya uang dan mengajak dia untuk mengobrol. Dia tidak mengeluarkan satu kata pun. Kemudian kita menyodorkan kertas dan bulpoin. Dia mengerti apa yang kita maksud. Akhirnya dia menuliskan nama Jeni umur 12 tahun tempat tinggalnya di daerah Sukun Malang. Setelah puas menuliskan jawaban yang kita ajukan, dia langsung berlari menghilang entah kemana.

Namun, kami berpikir lagi dan muncullah pertanyaan kenapa anak-anak itu merasa takut dan trauma dengan orang-orang asing alias orang yang bukan berasal dari golongannya?? Selidik asal selidik, kehidupan merekalah yang merubah mainset mereka. Life is competition, siapa yang bisa bertahan hidup di dunia ini, dialah pemenangnya dengan segala cara. Sehingga mereka selalu waspada dan curiga pada siapa pun yang mendekatinya. Hidup ini sangat kejam, dimana-mana banyak persaingan. Itulah yang membuat mereka kejam juga tetapi sangat survive dengan kehidupan. Beda dengan anak rumahan yang hidupnya cukup enak walaupun sederhana disbanding dengan anak-anak jalanan tersebut.

Setelah beberapa saat kemudian kira-kira 10 menit, “Saya baru ingat,” celetuk salah satu tim TOT. “Ingat apa??, tanya kami serentak”. Di daerah Sukun ada yang namanya MYC(Malang Youth Center). Disana tempat berkumpulnya anak-anak jalanan untuk melakukan aktivitasnya selain di jalanan. Pemilik MYC ini merupakan pendeta. Di MYC ini anak-anak tersebut dilatih atas skill yang mereka punya dan akan dikembangkan di sana. Ini bisa dikatakan surga dunianya anak jalanan, pasalnya mereka bebas berekspresi dan mendapatkan kesejahteraan yang baik. Tanpa harus dituntut macam-macam. “Memang benar-benar tempat yang menyenangkan, apalagi untuk bermain musik” tambahnya lagi.

Diawali dengan kesenangan bisa berlanjut dengan hal-hal yang substansial untuk hidup mereka. Layaknya belajar seperti sekolah. Kami apresiatif sekali seperti adanya MYC ini. Anak-anak jalanan sebutan itu akan berevolusi menjadi musisi terfamous sepanjang abad. Jalanan hanyalah tempat mereka berlatih. Impian dan khayalan anak-anak itu akan terwujud.

Karena tidak semua anak jalanan berkeinginan untuk hidup sebagai sampah masyarakat. Sampah masyarakat itulah kata-kata yang terkadang melintas di benak orang-orang yang tidak peduli pada mereka. Padahal Mereka membutuhkan uluran tangan kita sebagai orang yang lebih mampu dari pada mereka. Banyak realita yang mengejutkan bermunculan dan sulit dipercaya. Selama ini kita buta akan realita kehidupan yang begitu kejam dan lekat dengan mereka, anak jalanan. Definisi anak jalanan bervariasi. Anak jalanan adalah sebuah istilah umum yang mengacu pada anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan, namun masih memiliki hubungan dengan keluarganya. Tapi hingga kini belum ada pengertian anak jalanan yang dapat dijadikan acuan bagi semua pihak.

Pada mulanya ada dua kategori anak jalanan, yaitu children on the street dan children of the street. Namun pada perkembangannya ada penambahan kategori, yaitu children in the street atau sering disebut juga children from families of the street. Pengertian untuk children on the street adalah anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan yang masih memiliki hubungan dengan keluarga. Ada dua kelompok anak jalanan dalam kategori ini, yaitu anak-anak yang tinggal bersama orangtuanya dan senantiasa pulang ke rumah setiap hari, dan anak-anak yang melakukan kegiatan ekonomi dan tinggal di jalanan namun masih mempertahankan hubungan dengan keluarga dengan cara pulang baik berkala ataupun dengan jadwal yang tidak rutin. Children of the street adalah anak-anak yang menghabiskan seluruh atau sebagian besar waktunya di jalanan dan tidak memiliki hubungan atau ia memutuskan hubungan dengan orangtua atau keluarganya. Children in the street atau children from the families of the street adalah anak-anak yang menghabiskan seluruh waktunya di jalanan yang berasal dari keluarga yang hidup atau tinggalnya juga di jalanan.[1]

Kembali pada pertanyaan di atas, saya yakin jawabannya adalah tidak. Dengan MYC-MYC lain atau lembaga semacamnyalah akan bisa merubah yang awalnya sampah menjadi berlian kota. Kesuksesan akan datang menjemput orang-orang yang yakin akan impiannya. Mereka punya hak hidup yang sama dengan anak-anak lain yang lebih beruntung hidup di dunia dengan keluarga normal. Ibaratnya membutuhkan sedikit polesan agar menjadi indah. Sangat mulia sekali tangan-tangan yang telah memoles atau mendaur ulang sampah-sampah itu.


[1] www.wikipedia.com/anak-jalanan

Ma'af Yang Tak Pantas

Kamis, 08 Juli 2010

Setiap ucapan, tingkah laku dan prasangka manusia tidak luput dari warna hitam
Itu lah kehidupan dunia
Beda lagi dengan kehidupan di surga
Tak pernah ada kegelapan
Semuanya bersinar seperti rembulan pada saat purnama di malam hari
Namun, Tuhan sudah menyiapkan jalan setapak di antara semak-semak belukar tersebut
Begitu indah ketika bisa meraih jalan itu

Tetapi....manusia begitu bodoh
Mereka tak sadar dengan semua pemberian Tuhan
Manusia hanya bisa marah-marah kepada Tuhan
Ketika apa yang mereka minta tidak sesuai dengan harapan
Padahal Tuhan memberikan yanng terbaek buat semua hambanNya

Ma'afkan kami Ya Allah...
Tp pantaskah kata ma'af ini kami haturkan???
Ampunilah kami Ya Allah...
Ehm...Lagi-lagi pantaskah????

Whateverlah....apapun bahasanya Ya Allah...
Engkau Maha Tahu atas semuanya...
apalagi isi hati hambaMu yang bodoh ini

Kerinduan

Mendung Hitam menyelimuti Sang Cakrawala
Gemuru petir menghiasi angkasa
Dinginnya angin berhembus
Menerpa kulit ari

Di saat itulah hati gunda gulana
resah dan gelisah
ingin segera bertemu denganmu

Untuk mengingatkanku
bahwa ku merindukanmu